Mendikbud: Bermain Itu Penting, Kurikulum di Indonesia Sudah Terlalu Berat

Mendikbud RI Muhadjir Effendy saat mengunjungi SMPN 1 Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Mendikbud RI Muhadjir Effendy saat mengunjungi SMPN 1 Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

TRENGGALEKTIMES, MALANG – Setidaknya ada empat karakter yang seharusnya diajarkan kepada anak, yaitu etika, estetika, kinestetika, dan logika. Sayangnya, pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada logika.

Hal ini sempat dinyatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy dalam acara Pengembangan Karir Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Pembekalan Metode Pembelajaran Guru Kelas I dan II) Dinas Pendidikan Kota Malang Tahun 2019 di gedung Pertamina SMKN 2 Malang beberapa waktu yang lalu.

"Pendidikan kita selama ini hanya satu yang berat, yaitu logika. Logika itu ukurannya benar dan salah. Dan pelajaran kita, pendidikan kita, itu sudah terlanjur heavy-nya di logika," ungkapnya.

Seperti halnya  baca, tulis, hitung, sudah jelas lebih menekankan pada pembentukan logika. Padahal, ada 4 pendidikan karakter yang seharusnya diberikan kepada anak, yakni etika, estetika, kinestetika, dan logika. Semuanya seharusnya seimbang.

"Sehingga sebetulnya dari empat itu, hanya satu yang selama ini kita ulek-ulek. Padahal masih ada yang lainnya," lanjutnya.

Dijelaskan Muhadjir, selain logika, kinestetika juga merupakan hal yang penting. Kinestetik sendiri melatih otot, otot halus maupun otot kasar. Contoh melatih otot halus misalnya dengan bermain piano. Sedangkan otot kasar dengan latihan bela diri. "Jadi karakter itu juga harus dibangun secara bersamaan," tandasnya.

Karena itu, mendikbud meminta, apabila ada SD yang tidak punya lapangan bola, harus cari tempat yang ada lapanganny sehingga anak bisa bermain. "Bermain itu penting," tandas Muhadjir.

Ia kemudian menceritakan masa lalunya dulu pada saat SD yang mengenyam kinestetika melalui senam ringan sebelum masuk kelas.

Muhadjir pun menyadari bahwa Indonesia punya problem kurikulum. Dan ini sudah turun-temurun. Dikatakannya bahwa kurikulum di Indonesia bebannya sudah terlalu berat.

"Kalau di SD di luar negeri itu kan paling banter 3-4 mata pelajaran. Di sini beban tasnya sampai 'deyek-deyek' saking banyaknya mata pelajaran," tukasnya.

Hanya saja, tidak mudah mengubah mindset masyarakat. Ia pun mengaku sudah menerima banyak kritikan mengenai hal ini. "Ya sudah banyak kritikan ke saya. Kenapa tidak berani. Tapi ini masalahnya bukan berani atau tidak berani, tetapi berkaitan dengan peraturan, perundang-undangan," pungkas Muhadjir.

 

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]trenggalektimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]trenggalektimes.com | marketing[at]trenggalektimes.com
Top