Auman Singa Betina Asal Tangerang yang Bikin Keder Tuan Tanah, Gugur dalam Kondisi Bagian Tubuh Dipotong dan Dikubur Terpisah

Ilustrasi Nyi Mas Melati (Ist)
Ilustrasi Nyi Mas Melati (Ist)

TRENGGALEKTIMES, MALANG – Begitu banyak peristiwa di berbagai nusantara yang tak tercatat dalam lembaran buku-buku sejarah. 

Khususnya terkait para pejuang wanita yang melawan penjajah Belanda seperti Nyi Mas Melati dari Tangerang.

Sosok wanita yang saat gugur di medan laga, masih membuat ciut nyali para tuan tanah dan penjajah Belanda. 

Sehingga tubuh pejuang dari Tangerang yang dijuluki Singa Betina ini saat gugur dipotong-potong dan dikubur secara terpisah.

Konon menurut berbagai catatan yang ada, Nyi Mas Melati dikuburkan di Desa Bunar, Kecamatan Sukamulya, Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Sumber lainnya menyebutkan makam keramat Nyi Mas Melati berada di Pulau Panjang, Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. 

Sebagian jasadnya juga dikubur di kawasan Danau Situ Gintung Ciputat yang dibangun oleh Belanda pada 1933.

Siapakah Nyi Mas Melati sehingga para tuan tanah yang dibentuk Belanda tahun 1918 di kawasan Tangerang bergidik mendengar namanya.

Kawasan yang sejak tahun 1921-1930  sejumlah tanah disebut tanah partikelir. Di antaranya di Distrik Blaradja, yaitu Blaradja, Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng. 

Adapun di Distrik Tangerang, di antaranya tjikokol, Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, dan Tanah Kodja.

Sedangkan di Distrik Maoek, antara lain Kramat Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, dan Ketos. 

Tanah partikelir adalah tanah-tanah dimana masyarakat dipaksa untuk bercocok tanam. Sementara yang menguasai hanyalah segelintir orang yang disebut tuan tanah yang didukung oleh Belanda.

Kondisi perbudakan menyebabkan kesengsaraan hebat bagi warga kecil yang akhirnya melahirkan Nyi Mas Melati. 

Putri dari Raden Kabal yang masih memiliki keturunan dengan Sultan Hassanudin Banten lalu melakukan perlawanan sengit terhadap kesewenangan-wenangan tuan tanah dan Belanda.

Tidak ada catatan lengkap sejarah terkait Nyi Mas Melati. 

Hanya dari beberapa kisah yang dituturkan turun temurun disampaikan, Nyi Mas Melati merupakan sosok wanita yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. 

Makam Nyi Mas Melati (Ist)

Keperkasaannya dalam setiap pertempuran, baik saat penghadangan maupun sabotase sarana-sarana penting milik tuan tanah dan Belanda yang membuatnya dijuluki Singa Betina.

Salah satu kedigdayaan Nyi Mas Melati yang dikisahkan dalam legenda turun-temurun oleh orang Betawi Tangerang, yakni gelegar teriakan yang keluar dari mulutnya saat menyemangati pasukan yang dipimpinnya.

Saat bentrok terjadi di daerah perbatasan Balaraja, sambil mengacungkan keris, Nyi Mas Melati berteriak lantang ôSerangů!ö 

Teriakannya yang membahana membuat pasukan Belanda langsung ciut nyalinya.

Aumannya  merontokkan semangat pasukan lawan. 

Bahkan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena lengking aumannya yang serupa singa.

Berbagai pertempuran Nyi Mas Melati bersama ayahnya Raden Kabal dan Pangeran Pabuaran Subang, telah membuat kerugian besar bagi para tuan tanah dan Belanda.

Nyi Mas Melati selain dikenal sebagai singa betina dalam berbagai pertempuran karena kegigihannya ternyata juga salah satu tokoh wanita yang memiliki peran penting menyebarkan agama Islam di wilayah Tangerang.

Dua peran penting inilah yang membuat tuan tanah dan Belanda merasakan ketakutan atas sosok Nyi Mas Melati. 

Sehingga dengan berbagai upaya akhirnya Nyi Mas Melati gugur. 

Kematian Nyi Mas Melati ternyata masih menimbulkan ketakutan, sehingga jasadnya di potong-potong dan dimakamkan secara terpisah di berbagai tempat.

Perlawanan heroik Nyi Mas Melati sampai kini dikisahkan oleh para orang tua. 

Walau dimungkinkan, banyak juga yang tidak mengetahui sepak terjang salah satu pejuang wanita dari Tangerang ini.

Jejak Nyi Mas Melati selain makamnya, namanya diabadikan di gedung wanita di kawasan jalan Daan Mogot, serta disematkan pada nama sebuah jalan di Kota Tanggerang. 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]trenggalektimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]trenggalektimes.com | marketing[at]trenggalektimes.com
Top